Musibah Suamiku Ladang Ibadahku
15% off

Musibah Suamiku Ladang Ibadahku

Rp51.000

Berat 0,25 kg
Dimensi 19 × 13 cm
Cetakan

Halaman

Cover

Penulis

Stok Produk: Tersedia

Kupon diskon, voucher belanja, gratis ongkir, diskon ongkir, dan lainnya akan muncul di halaman keranjang setelah kamu memilih judul buku yang akan dibeli. Pilih Kupon yang tersedia dan dapatkan PROMO MENARIKNYA!

Genre Buku: Penerbit:

Beli Paket Bundle!

Dapatkan potongan harga dengan membeli paket buku di bawah ini
Jadi Hemat: Rp140.037

Sarah, seorang wanita karier dengan segudang prestasi jatuh cinta pada Arya, seorang insinyur nan gagah dan rupawan. Mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang sederhana dan bahagia di Sangatta.

Hingga suatu hari, Arya mengalami kecelakaan hebat dan berbagai cobaan datang silih berganti. Mulai dari operasi berkali-kali, di PHK, cacat seumur hidup, divonis mandul, membuat Arya berubah dari pribadi yang hangat menjadi temperamental. Sarah pun harus menahan diri dari bisikan miring di sekitarnya, lelahnya menjadi tulang punggung, mengurus rumah, hingga membesarkan anak seorang diri. 

Benarkah Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar kemampuan? Sarah ingin sekali menyerah. Haruskah Sarah bertahan atau meninggalkan suaminya demi kebahagiannya dan anak semata wayangnya?

Sebuah kisah pengorbanan seorang istri yang terinspirasi dari kisah nyata.

 

KUTIPAN

  1. Tidak ada yang spesial dari keluarga kami. Hanya keluarga kecil yang baru membina rumah tangga. Namun di tengah ikhtiar itu, kami dihadapkan pada sebuah tragedi yang sangat besar. 
  2. Allah swt. tidak akan menguji hamba-Nya di luar kemampuannya. Ajaran ini begitu indah didengar, begitu mudah diucapkan, tetapi terlalu berat untuk dilaksanakan.
  3. Mengenang semua itu, aku berusaha menikmati hari raya dengan penuh suka cita. Aku tidak mau terlalu larut dalam kesedihan dan kekecewaan hingga melupakan indahnya hari kemenangan. Allah pasti akan menggantinya dengan rezeki yang lebih berkah. 
  4. Barangkali di sinilah indahnya makna bersyukur. Kita bisa menghargai dan mensyukuri sesuatu hanya jika ada perubahan. Dari yang tidak nyaman menjadi nyaman, dari kekurangan menjadi berkecukupan. 
  5. Aku memiliki kesempatan membaca teori-teori kehidupan dengan sangat dalam. Sebuah teori yang tidak terbukukan dalam pustaka ilmiah. Aku membacanya dalam setiap tarikan nafasku serta menerapkannya dalam setiap tutur kata dan tindakanku.
  6. Malam itu, menjadi malam yang sangat indah sekaligus bersejarah. Perjuangan kami tak sia-sia. Rasa penat perjalanan yang begitu panjang hilang seketika. Bulan di langit Singapura bersinar terang, seakan menjadi saksi kebahagiaan kami. 
  7. Aku hanyalah manusia biasa, bukan seorang super woman yang mampu menjalani segala sesuatunya dengan sempurna.
  8. Andai aku dibolehkan memohon satu hal, aku hanya akan memohon surga untuk istriku.

“Novel Musibah Suamiku Ladang Ibadahku memiliki pesan moral yang sangat kuat agar kita menjadi hamba yang pandai bersyukur. Keunggulan novel ini ada pada keaslian ceritanya yang didasarkan pada kisah nyata, sehingga setiap babak cerita yang tersaji mampu menyentuh emosi pembacanya.”

—DR. H. Mahyudin, ST, MM, Wakil Ketua DPD RI

 

“Penulis berhasil mengolah tragedi menjadi seni kehidupan sehari-hari yang penuh gairah dan tantangan. Tragedi tak membuat dunia menangis. Dengan bahasa novel ia menggugah kesadaran kita untuk mengapresiasi sosok perempuan mulia yang gigih mengambil tanggung jawab besar suaminya tanpa keluhan. Ia mungkin simbol perjuangan kaum feminis yang merasa perlu menampilkan contoh pribadi yang layak dikagumi. Novel ini membukakan kesadaran kita bahwa dalam kehidupan yang ditandai oleh simbol ‘male dominated society’ ini ada kalanya tampil perempuan perkasa yang membuat laki-laki seolah tak layak ikut bicara. Peradaban baru kita mulai menunjukkan perempuan bukan ‘minoritas’ yang selamanya begitu mudah ditundukkan.” 

—Mohamad Sobary, penulis dan budayawan 

“Saya pernah bekerja di Kalimantan sebagai pemimpin redaksi Tribun Kaltim. Beberapa kota yang disebut penulis dalam novel ini sangat akrab bagi saya, dan membuat penasaran sekaligus pengobat rindu. Novel karya Mbak Zulfatun sungguh komplit. Merujuk pada judulnya, settingnya mengangkat angle duka lara. Terkesan menjual iba dan tangis. Namun di balik musibah, tersingkap hikmah penguat semangat dengan spiritual kebatinan yang mendalam. Menguak ketulusan, keikhlasan, pengorbanan menyatu dengan cinta seorang istri pada suami dan anaknya. Sisi lainnya, mengulas nostalgia prestasi dua remaja, mahasiswa yang membanggakan orang tua dan bangsanya. Ending nya, novel ini membawa satu kepasrahan intelektual, berusaha keras secara manusiawi, tetapi berserah pada kehendak Allah swt. Dan mukjizat Allah pun nyata, oleh kelahiran anak kedua. Sangat direkomendasikan!” 

— Domu D. Ambarita, News Vice Director Tribun Network, Editor in Chief Warta Kota-Super Ball 

“Teladan kesabaran seorang anak manusia yang hampir tiada batas. Kesabaran yang didukung oleh keikhlasan dan amal ibadah akan diberi ganjaran mendapatkan tempat tinggal di surga, ‘Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka, dan disana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam,’ (AlFurqan: 75).” 

—Dr. Nelly Nailatie Maarif, M.B.A., Ketua Presidium BMIWI (Badan Musyawarah Islam Wanita Indonesia) 

“Novel ini memberikan pembelajaran makna syukur dan ikhlas sebagai pondasi utama menghadapi persoalan kehidupan. Melalui novel ini, kita diajak untuk selalu berprasangka baik terhadap skenario Tuhan. Setiap babak cerita yang tersaji dalam novel ini menuntun kita untuk selalu memiliki harapan dan jalan keluar dari setiap persoalan.” 

—Prita Kemal Gani, M.B.A., MCIPR, APR, President ASEAN Public Relations Network, Founder dan CEO London School of Public Relations Jakarta 

“Novel ini berkisah tentang kehidupan yang memotivasi untuk terus berikhtiar. Ditulis dengan bahasa tutur yang mudah dicerna. Penulis meyakini bahwa setelah badai pasti akan menghadirkan pelangi, setiap musibah akan muncul hikmah. Sepanjang kita mampu bersyukur.” 

—Agus Toto Widyatmoko, Pemimpin Redaksi Suaramerdeka.com 

“Novel ini bukan novel romantis yang bisa mengaduk aduk perasaan atau membuat Anda menangis hingga berlarut-larut. Tapi percayalah, rasa cinta diikuti keikhlasan akan mengalahkan musibah yang datang tiba-tiba. Novel ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua untuk lebih ikhlas dan bersyukur dalam menjalani kehidupan.”

—Ade Mayasanto, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim 

“Buku yang menyentuh dan menyadarkan ‘kecilnya’ manusia di tengah semesta ini. Mengingatkan juga tentang ikhlas, dan kemampuan berdamai dengan keadaan adalah sebuah kekuatan.” 

—Lativa Haryati, ibu rumah tangga 

“Novel ini bercerita tentang indahnya kemanusiaan ketika kasih sayang dan tantangan dalam relasi keluarga datang bergantian dan saling berhimpitan. Penulis menceritakan dengan baik bagaimana kerja keras dan harapan akhirnya menjadi kunci penyelesaian persoalan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang berjiwa pemenang.”

 —Dr. Rino F. Boer, Direktur Program Pascasarjana Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR Jakarta

Keunggulan Buku Ini

  • Diangkat dari kisah nyata,
  • Kisah ini pernah dimuat di koran Tribun Kaltim,
  • Menggugah sekaligus menginspirasi para pembacanya,
  • Terdapat ilustrasi menarik yang menggambarkan kejadian dalam novel
  • Ditulis oleh Zulfatun Mahmudah, seorang public communication expert yang sedang menyelesaikan program doktoral Kajian Budaya dan Media UGM,
  • Novel ini disebut sebagai simbol perjuangan kaum feminis oleh penulis dan budayawan, Mohamad Sobary.

Ulasan

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama memberikan ulasan “Musibah Suamiku Ladang Ibadahku”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top